Sabtu, 09 Maret 2013

Suksesi


Keluar pernyataan dari Pemimpin negeri Kelabu : kemungkinan saya tidak akan mencalonkan diri lagi, jadi sejak sekarang putra terbaik negeri ini sudah boleh mulai ancang-ancang, siapa sekiranya mau maju dalam pemilihan dua tahun lagi.
Pernyataan itu ( masih diragukan, karena diawali dengan kata “kemungkinan”). Walau demikian, pernyataan tersebut telah memancing publik untuk menanggapi. Orang mulai kasak-kusuk mencari siapa jagoannya yang akan dilepaskan di arena dan kebetulan mendapatkan sinyal lampu biru dari tokoh yang berkeinginan maju, sehingga muncul enam  nama. Mereka bukan orang sembarangan. Tokoh yang memiliki integritas pribadi yang terukur, keakhlian yang meyakinkan, moral tidak diragukan, jejak rekam jelas, jaringan luasdan terakhir memiliki modal alias fulus.

Tokoh pertama, Bapak Bestoro. Beliau dikenal luas, banyak pendukung fanatik. Beliau awalnya berkarir sebagai birokrat kemudian pensiun dini, pernah menjabat legislatif, dua kali maju bersaing selalu bernasib buntung. Dalam perjalanan karir beliau dipenuhi ranjau, tapi orangnya dikenal sangat ulet.

 Tokoh kedua, Bapak Nasar. Oh ya, kalau tokoh ini sangat energik, terbilang masih muda menurut ukuran negeri Kelabu, walau usianya sudah 40-an. Pribadi yang sangat cerdas, pernah memegang beberapa jabatan strategis. Pernah maju dalam perebutan orang nomor satu, tapi “keok”, selisih hanya sepuluh suara. Nasib belum memihak beliau.

 Tokoh ketiga, sapaan akrabnya pak Kadar.Pendatang baru dalam dunia politik, terbilang masih muda, walau bukan muda belia alias remaja. Dia itu berprofesi sebagai dokter bedah kandungan di rumah sakit terbesar di negeri Kelabu.
 Tokoh keempat, seorang birokrat tulen, pernah sebagai pejabat penting di Divisi Keuangan, muda, cerdas, berakhlak mulia.

Tokoh kelima, nah dia ini satu-satunya perempuan. Sapan akrabnya, mba Wita.   Tokoh dengan reputasi nasional, cantik, simpatik, populis, juga termasuk masih usia muda ( bukan ABG).

Tokoh keenam, dia sangat banyak pengalaman di birokrasi. Lama memimpin dan mengendalikan instansi yang berkaitan dengan urusan hutan. Walau orangnya terbilang cerdas, tapi kritik publik terhadapnya, bahwa selama memimpin intansinya, hutan hampir gundul. Pembalakan liar merajalela.

Kemudian timbul masalah. Baliho mereka dipasang dimana-mana. Di perkotaan, di pemukiman kaki gunung, di perempatan jalan, diterminal. Tujuannya hanya satu, memperkenalkan diri kepada publik, atau dalam bahasa populernya “politik pencitraan”.  Berhubung belum masuk taraf proses pemilihan sehingga tidak ada himbauan terkait pilih memilih. Paling sekedar ucapan hari ulang tahun negeri Kelabu, ucapan hari raya keagamaan, peringatan hari kemerdekaan, kampanye KB, himbauan ini dan itu.

Sebagian warga menganggap baliho mengurangi keindahan pemukiman. Tapi ada juga sisi positif, sebab negeri kelabu menerapkan aturan secara ketat, semua baliho politik dan non politik harus dipungut pajak reklame. Satu baliho Rp 2 juta. Nah, boleh anda hitung sendiri, kalau ada lima calon masing-masing seribu baliho, berarti kan : 5 x 1000 x Rp 2 juta = Rp 10.000.000.000 (10 Milyar).

Wah ! Demokrasi modal negeri Kelabu, ada sisi negatifnya, namun ada pula sisi positifnya.Memang lumayan

oleh Usman Hasan pada 2 September 2012 pukul 19:10 ·


Tidak ada komentar:

Posting Komentar