Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Maret 2013

BALAS DENDAM ORANG " MANGKAGE"

Bangsa ini miskin dan sangat terkebelakang dalam segala aspek  akibat penjajahan asing yang sangat lama..  Setelah merdeka, muncul banyak persoalan,  seperti PRRI /Permesta, DI TII, RMS, Ibnu Hajar, pembebasan Irian Barat,  ditambah dengan konfrontasi dengan Malaysia yang menyita energi bangsa.

Sesudah sepuluh tahun pemerintahan Orde Baru , kita masih sangat jauh terkebelakang  dalam banyak bidang, misalnya pendidikan.  Orang terdidik pada tahun 70-an masih  sangat sedikit, sehingga seorang tamatan SMP direkrut untuk menjadi guru  SD. Orang masuk tentara, polisi dan PNS  sebahagian besar hanya pendidikan SD.

Orang terdidik ditahun 70-an sebahagian besar masih produk pendidikan Belanda yang lebih fasih bercakap dalam bahasa Belanda dan Inggris daripada bahasa Indonesia.

Setelah Soeharto menggalakan pembangunan, maka kemajuan mulai terasa. Investasi modal asing  begitu pesat melejit sangat laju meninggalkan rakyatnya  jauh dibelakang. Dari sisi SDM,  perangkat hukum, kesiapan mental dan persyaratan lainnya  kita masih kedodoran. 

Ditambah lagi  dengan diterapkannya  otonomi daerah di-era reformasi yang memberikan kewenangan sangat luas dalam pengambilan kebijakan dan pengolahan dana yang telah menciptakan elite baru dan  raja-raja kecil, telah menyuburkan korupsi oleh elite baru yang memang tidak siap dalam banyak aspek. Yang sangat diuntungkan  hanya sebahagian kecil anak bangsa  disebabkan  posisi penting yang tidak lepas dari keberhasilan pembangunan Orde Baru dan  terciptanya mobilisasi sosial sebagai dampak digenjotnya  pendidikan .

Sebahagian besar dari mereka yang dikatakan orang sebagai “elite bangsa” sekarang ini  dapat diibaratkan “orang kagetan”, kalau dalam ungkapan orang Manado “orang mangkage, kalau meminjam  istilah almarhum Nurcholis Madjid,  kita ditimpa “kejutan sosial”.

Tadinya tidur di rumah reot, menarik sandal jepit  miring sebelah,  naik vespa karatan,  kakinya bengkak karena selalu berjalan kaki berkilo-kilo meter, berenang dan menyelam di laut memanah ikan, menyadap saguer.Dari kumuh mendadak disuruh berlagak parlente, akhirnya,  pasang dasi saja miring, pakai jas saja  kedodoran, celana dan kemeja saja dipilih warna yang  tidak serasi.

Tidak heran, setelah menjadi  pejabat, tidak tahan menghadapi godaan, tidak tahu diri, merasa hebat sendiri, pintar sendiri, menumpuk kekayaan di tengah kemiskinan rakyat.  Karena terlalu lama jadi orang susah,  miskin dan terkebelakang sehingga ketika mendapat kesempatan, menjadi lupa daratan. Yang namanya rakyat, hilang dalam memory. Yang terpenting bagaimana   melakuklan “balas dendam”. Terlalu lama menderita karena jadi orang miskin.Sudah capek jadi orang melarat. Harus dilampiaskan sampai puas. Urusan rakyat nomor belakang.***

oleh Usman Hasan pada 17 September 2012 pukul 21:31

Senin, 04 Maret 2013

BANTUAN HEWAN PENYAKITAN


Di negeri Kelabu pemerintah sangat memikirkan kehidupan masyarakat, utamanya mereka yang  berdiam  di pedesaan.
Ada bantuan ayam,itik,kambing dan yang  paling besar dan mahal adalah sapi.Walau sudah puluhan tahun  bantuan  diberikan,tapi tetap saja negeri Kelabu mengalami kekurangan  hewan,utamanya ketika tiba perayaan hari keagamaan,pasti mengimpor dari negeri tetangga.Entah apa sebabnya,masyarakat awam tidak begitu paham.

Mahasiswa yang  peduli terhadap problem sosial masyarakat turun melakukan penelitian dan ditemukan  banyak masalah

Pertama, bantuan hewan diserahkan kepada pihak ketiga.Ternyata pihak ketiga mengadakan sapi anak, bukan sapi induk seperti tertuang dalam kontrak.Selain itu,sebahagian sapi tidak berumur panjang,sebab yang diadakan adalah sapi  penyakitan.Kalau pengadaan ayam,sesuai dengan kontrak yang harus diadakan adalah ayam Bangkok dan ayam Kediri,ternyata hanya ayam lokal,itu pun tidak terjamin ayam sehat. Yang dibeli ayam sudah ada bibit penyakit,sebab ayam dalam kondisi mengidap penyakit akan lebih murah.Tak heran, baru seminggu disalurkan kepada masyarakat, sebahagian besar ayam bantuan sudah  mat.

Kedua, pihak instansi yang menangani pengadaan ternak mementingakan pertanggungjawaban secara admnistratif. Pokoknya ketika sudah sesuai jumlahnya,sudah berada di tempat,sudah dibubuhkan tanda tangan,maka sudah dianggap urusan selesai. Tidak ada evaluasi,tidak ada perhitungan secara detail sampai analisa jangka waktu sekian tahun kedepan,apakah berhasil atau gagal

Ketiga, yang masuk kelompok  penerima bantuan ternak hanya mereka yang dipilih oleh pejabat peternakan dan ketua kelompok. Ada tukang ojek masuk kelompok penerimai sapi,ada penjual keliling masuk kelompok penerima  kambing, ada pejabat, sepupu,ipar dan mertua masuk kelompok tani sapi.

29 Juni 2011 pukul 21:36