Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Maret 2013

PEMBELA


Permasalahan korupsi sebuah topik yang tidak akan kering untuk dibahas. Sebab soal korupsi terkait dengan budaya, sejarah, politik, ekonomi, percaturan global, kepentingan kekuasaan, kebijakan dan berderet masalah lainnya.

 Nah, Tulisan ini mengenai salah satu sisi dari permasalahan korupsi, yaitu munculnya para “pembela” koruptor.

Ketika ada pengacara yang membela koruptor di Pengadilan, maka hal itu masih dalam tataran penegakan hukum, pengacara membela terhadap hak-hak si tersangka sebagai warga negara, walau ada sebagian pengacara yang tidak mau menyentuh atau tidak rela menyediakan diri untuk membela koruptor.

Sebagai contoh, bagaimana upaya penangkapan Bupati Buol yang ditayangkan di televisi dan menurut pengarah berita, ada perlawanan dari sekelompok masyarakat, mereka lengkap dengan senjata tajam menghalangi, setidaknya mempersulit penangkapan. Bupati Buol sempat melarikan diri dengan mobil dan nyaris mencederai salah satu petuga KPK. Itu sebabnya perlu didatangkan Densus 88 dari Jakarta, sebab ada kesulitan penangkapan hanya oleh KPK saja.

Bukan hanya di televisi, tapi saya mendengarkan dari seseorang sebagai pelaku penangakapan itu, dia menceritakan bagaimana kondisi kala itu. “Pokoknya kayak di film detektif saja, pak. “ Begitu katanya.

Masih menurut teman saya sebagai pelaku penangkapan Ansory, sebenarnya kalau hendak dipaksakan, aparat dapat menangkap Bupati Buol pada saat penangkapan Anshory, tapi kan dalam melaksanakan tugas harus ada pertimbangan lain, misalnya faktor keamanan dan kestabilan yang harus dijaga, apalagi menjelang Pemilukada. Kalau si penyuap sudah ditangkap lengkap dengan barang bukti, maka soal penerimanya walau melarikan diri, hanya soal waktu saja, pasti akan ditangkap.

Di Indonesia sekarang ini banyak bermunculan “pembela”,. Sengaja saya gunakan tanda kutip dalam kata pembela, untuk membedakan dengan pembela yang memiliki dasar hukum dan memiliki basis argumentasi jelas seperti pengacara, pembela agama, pembela rakyat.

Buya Hamka pernah menulis di Panji Masyarakat dengan judul “Ghirah”. Menurut penjelasan Buya Hamka, seorang Muslim harus memiliki Ghirah, yaitu sikap cemburu yang kemudian melahirkan sikap pembelaan terhadap agamanya, tehadap keluarganya, terhadap negaranya. Contoh : ketika agama islam dilecehkan, dihinakan, atau keluarga kita dizalimi, negara kita diserang musuh, maka adalah kewajiban umat Islam untuk bertindak melakukan pembelaan mati-matian. Berdiam diri tandanya tidak memiliki Ghirah dan sebuah sikap pengecut yang dicela agama. Yang dimaksud Buya Hamka adalah kehormatan agama, keluarga dan negara. Menjadi wajib dilaksanakan pembelaan.Tapi pasti bukan "pembela " seperti pembela yang saya maksud dalam tulisan ini yang dimaksud oleh Buya Hamka.

“Pembela” yang saya maksud dalam tulisan ini adalah pembela dalam arti secara membabi buta , membela hanya didasarkan pada kepentingan sesaat, kepentingan sempit yang tidak memiliki dasar argumetasi yang kuat.Yang hendak menangkap kan KPK yang diberi hak berdasarkan Undang-Undang untuk urusan menangkap basah yang diduga korupsi. Dengan alasan apa sekelompok warga hendak menghalangi. Seandainya Bupati Buol hendak diculik oleh teroris, hendak diperlakukan sewenang-wenang, boleh jadi ada alasan yang kuat apabila sekelompok warga membela, mempertahankan Bupatinya.
Fenomena “pembela” sangat kentara di republik ini. Ketika ada kasus korupsi besar, muncul sekelompok orang demo ke kejaksaan, ke pengadilan dengan maksud membela. Ketika ada kasus yang menimpa petinggi tertentu, muncul aktifis karbitan yang tidak jelas apa tujuan dan maksud. Mengurusi soal urusan tetek bengek dari elite politik yang nyata-nyata tidak ada kaitannya dengan rakyat miskin.

Belakangan ini tersedia aktifis yang sering diistilahkan broker, mereka memerankan diri sebagai “pembela”. Dengan gaya bicaranya yang fasih seolah-olah menguasai banyak persoalan padahal hanya tahu sedikit,agak bernyali, berani maju tak gentar membela yang bayar dengan uang receh, sebuah kondisi yang dengan mudah dibaca oleh elite kepala batu, kemudian mereka memanfaatkannya.

Kadang juga, aktifis dikompori : “itu nah si pejabat A (mungkin lawan politiknya), dia sudah menyalahgunakan uang rakyat, ini ada data lengkap, kalian demo sana, masak sih uang rakyat diambil untuk kepentingan pribadi.

Si aktifis karena kurang analisis, telat mikir alias telmi, atau paham juga masalah, tapi demi “uang receh”, maka dia berani maju tak gentar sampai titik darah penghabisan menghabisi lawan politik si tukang kompor
.
Jadi, kesimpulamnya, bahwa korupsi sebuah perilakuyang ada kaitannya dengan sejarah panjang negeri ini, bahkan sebagian orang mengatakan bahwa korupsi di negeri ini memiliki akar sejarah dan budaya yang begitupanjang, masih sejak zaman Majapahit. Memiliki kaitan dengan sistem politik biaya mahal. Ada yang mengkaitkan dengan percaturan global, gurita kapitalisme , budaya instan, dukungan dari masyarakat yang memiliki tabiat cari keuntungan dengan menempelkan hidupnya pada para koruptor, berharap tampias (percikan air) dari para elite bermasalah, mau hidup senang tanpa mau kerja keras, cukup menjadi broker, menjadi “pembela” demi mendekati hangatnya bara api kekuasaan, demi kepentingan diri sendiri dan kepentingan “bos”, kepentingan rakyat nomor sepatu. ***

oleh Usman Hasan pada 31 Agustus 2012 pukul 0:42

KORUPSI KEPALA DESA



oleh Usman Hasan pada 29 Agustus 2012 pukul 13:42 


Tim Kejaksaan yang terdiri Kepala Cabang Kejaksaan Negeri  (Kacabjari) Moutong dan Staf Intel Kejari Parigi diruang kerja Bupati Parigi Moutong menyerahkan Rp 17,3 Juta  dana yang di korupsi Kepala Desa Sijoli Kecamatan Moutong.

Bupati Parimo mengatakan bahwa itu sebagai contoh  kepala desa lainnya yang menggelola ADD agar mendukung upaya Kejaksaan dalam upaya menegakan aturan.

Kacabjari Moutong  kepada wartawan mengatakan : bahwa pelaku korupsi ADD yaitu Kepala Desa Sijoli hanya diproses perdata. Awalnya masih dalam tahap penyeldikan, namun kemudan karena ada pengakuan dari sang Kades  untuk mengembalikan uang tersebut , maka kasus itu hanya diproses melalui Bagian Perdata  dan Tata Usaha Negara.

Itu uraian diatas adalah berita yang saya kutip dari Media Alkhairaat Selasa 7 Juni 2009.

Sebelum ada program pemerintah yang diturunkan di desa, sangat jarang kita mendengar ada Kepala Desa yang terlibat kasus korupsi, karena memang tidak ada dana yang bisa di korupsi.  Tapi setelah adanya berbagai program masuk desa , antara lain dana kompensasi BBM Rp 250 juta setiap desa, dana ADD (alokasi dana desa) yang dikelola langsung oleh kepala desa, maka ada sebahagian kepala desa yang terbelit kasus korupsi..

Apa yang dilakukan oleh Kacabjari Moutong menurut saya sudah sangat tepat, Memang benar kita hendak memberantas korupsi, tapi, ketika  Kepala Desa mengaku secara terus terang kemudian bersedia mengembalikan seperti yang dilakukan kepala desa Sijoli maka kebijakan yang dilakukan oleh Kacabjari Moutong patut dipahami sebagai langkah yang arif bijaksana.
Padahal, kalau saja pihak Kacabjari mau meningkatkan ke tahap penyidikan maka tidak ada halangan atau sesuatu hal yang patut dipermasalahkan.

Bupati Parimo mengatakan bahwa itu menjadi contoh bagi kepala desa lainnya.
Menurut saya, bukan hanya menjadi contoh bagi kepala desa lainnya, tapi juga menjadi contoh bagi Kacabjari lainnya , minimal bisa meniru apa yang dilakukan oleh Kacabjari Moutong.

Misalnya, di Kabupaten Tolitoli sudah beberapa  Kepala Desa yang meringkuk di penjara terkait dengan korupsi. Di satu sisi apa yang dilakukan oleh penegak hukum patut diacungkan jempol, sebab  sudah benar dari sisi penegakan hukum/ pemberantasan korupsi.

Tapi di sisi lain tentu ada pertanyaan yang bisa muncul. Kalau  pun pertanyaan-pertanyaan itu disampaikan bukan dalam kontek membela pelaku korupsi, apalagi hendak melemahkan penegakan hukum. Hanya sebuah sisi pandang  setelah mengamati realitas dan kebetulan ada dukungan referensi, yaitu  kasus di Moutong yang menjadi perbandingan.

Pertama, mengapa tidak ada kebijakan yang sama oleh Kacabjari di Tolitoli dengan Kacabjari di Moutong sedangkan kedua Kacabjari itu masih sebagai satu korps dan masih   berada di Republik yang sama..

Kedua, apakah tidak sekedar terjebak dalam pengejaran penyelesaian target dipandang dari jumlah kasus tanpa melihat sisi lain, antara lain, misalnya apakah itu kasus teri atau kasus kakap.

Ketiga, atau apakah memang tidak ada informasi dari masyarakat dan pers terkait kasus korupsi  lainnya, misalnya dugaan korupsi kakap yang sempat dimonitor  Kejaksaan.sehingga tidak ada pilihan lain selain hanya asyik dengan kasus belasan juta rupiah ? Keempat, pertanyaan tersebut diatas sesuai dalam kontek  aspirasi masyarakat yang menginginkan Kejaksaan sebagai institusi yang menegakan undang-undang  tanpa mengabaikan rasa keadilan..

Senin, 04 Maret 2013

PEMERINTAHAN BERSIH


Usman hasan dalam coretan pada 20 Agustus 2012 pukul 11:05

Mimpi itu bunga tidur. Begitu kata sebagian orang. Ada pula yang menganggap- mimpi itu memiliki makna, kadang dikaitkan dengan keberuntungan, musibah dan sebagainya.

Pernah seseorang menceritakan sebuah mimpi kepada saya. Ketika itu sudah dekat Pemilukada. Ceritanya begini: itu pasangan calon kita masing-masing dengan angka punggung A,B,C dan D. Itu   saya lihat  calon A duduk di kursi kebesaran, wajahnya memancarkan cahaya, sementara itu calon B, C, dan D, hanya nampak samar-samar,masing-masing mereka duduk di kursi, tapi tidak begitu nampak wajahnya. 

Setelah dilaksanakan Pemilukada, itu pasangan calon dengan angka punggung A yang diliputi cahaya, dia   lolos. Mungkin kebetulan, mungkin juga teman saya tidak bermimpi seperti itu, kemudian dia ngarang-ngarang saja, entahlah.  Tapi, ada yang bilang, kalau seseorang menceritakan mimpi yang tidak pernah dia alami, maka itu kebohongan besar, maksudnya  berdosa besar.

Nah, saya ini kan suka nulis-nulis, suka bermain di tataran imajinasi, ya kalau bahasa kasarnya “ berbohong”, tidak benar bermimpi, tapi mengaku bermimpi, hanya karena ingin menuangkan pikiran imajinatif dalam sebuah tulisan. Mudah-mudahan tidak masuk kategori kebohongan besar.

Saya bertemu dengan seorang tokoh nasional, beliau ini sudah almarhum,  saya amati, eh, ini Bung Adam Malik, wartawan tiga zaman, dijuluki si kancil, pernah menjabat Wakil Presiden, Ketua MPR/DPR dan pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Keamanan PBB.

“Ada apa dik, ada yang perlu saya bantu ? “ Demikian suara Adam Malik penuh wibawa.
Saya terkejut kemudian dengan menjura  penuh hormat, saya berkata : maaf beribu maaf, apa saya berhadapan dengan  bapak Adam Malik .

“Benar sekali. Apa khabar dari duniamu. “

‘Alhamdulillah bapak Adam Malik, baik-baik saja, pembangunan gedung maju pesat pak, walau beras saja kami impor, salah satu sebabnya konversi lahan menjadi pemukiman dan pabrik terjadi dimana-mana. Banyak sekali legislator pintar-pintar, tapi kadang hanya lebih banyak menimbulkan masalah ketimbang memberikan solusi. Itu Bung Karno cuma meminta sepuluh pemuda maka dia akan menggoncangkan dunia, pak, tapi negeriku pak, ratusan sampai ribuan legislator, tidak ada juga pak, betul pak,  menggoncangkan dunia, tapi menggoncangkan dalam pengertian negatif pak.  Bayangkan saja, pak – sedangkan Presiden mengeluh, bahkan membuat ranking partai politik korupsi, ada rangking satu, dua dan tiga dengan detil prosentasi masing-masing, kayak anak SMA saja pak, pakai rangking segala macam.  Pendidikan maju, sekolah ada sampai di desa dan kecamatan, walau ada  sekolah hanya ada dua orang guru,  universitas sampai ke daerah kabupaten walau banyak konfliknya. Bapak ini kan masih menjabat menteri ketika Orde Lama, nah ketika muncul Orde Baru, maka Orde Lama dianggap seperti “anjing kurapan”, tidak ada lagi unsur positifnya. Kemudian muncul Orde Reformasi, semua berteriak Orde Baru busuk, lamban, pro modal asing, pemerintahan diktator, melanggar HAM. Diteriakkan pula Suharto harus  digantung, Golkar dibubarkan, ABRI harus digusur dari Parlemen. Nyatanya pak, mereka yang nyarinbg suara berteriak itu  lebih busuk dari yang mereka kritik, pak Adam Malik yang saya sangat hormati.

‘Wah.. wah.. hebat, cara ngomongmu itu, luar biasa sekali, gaya profokatif, tidak gampang. Atau gaya bicaramu jangan-jangan gambaran atau mewakili  gaya bicara generasimu,gaya bicara legislator yang kamu kritik itu. “ Kata Adam Malik dengan suara tajam,  suaranya agak nyaring.

Saya tertunduk, tak mampu memandang wajah Adam Malik yang sangat berwibawa. Kemudian dengan suara pelan berkata : “ Maafkan saya bapak Adam Malik idolaku, saya ini hanya frustasi saja pak, mungkin yang benar bahwa saya mewakili generasi yang frustasi pak, soalnya banyak pemimpin kami bicara tidak sesuai dengan perbuatan, “ genitnya” minta ampun pak, kalau gaya bicaranya sih, ya batu pun bergoyang. Penegak hukumnya pak, sebahagian besar menjual perkara jadi barang dagangan, politisinya menjual kebijakan kepada pemilik modal pak, katanya hendak membela rakyat, ternyata hanya membela kepentingan segelintir orang. LSM-nya, kurang lebih sama pak, lebih banyak jadi broker, mereka seolah-olah tidak bisa eksis kalau tidak jadi “pesuruh” elite kekuasaan, tidak mandiri pak. Mereka sama pak hanya mengejar kekuasaan juga, tapi  dengan jargon kerakyatan, sama dengan politisi itu. Wartawannya ? Kurang lebih pak, tidak ada harapan. Rakyat kan mengharapkan pemerintahan bersih, pak. “

‘Luar biasa, dari kata-katamu.  Memang banyak masalah dengan negeriku tercinta dan ada masalah juga denganmu, utamanya dalam soal bersikap, ada  pesimisme. Mustinya, generasi unggul tidak pesimis. Kedua, itu ucapanmu terakhir soal pemerintahan bersih. Sudah lama saya katakan bukan hanya kepada publik, tapi pertama saya katakan kepada anakku sendiri, darah dagingku sendiri. Ketika itu dia mahasiswa, ya sedikit banyak dia bersimpati dengan gerakan mahasiswa tahun 70-an yang mengusung isu pemerintahan bersih, sementara saya Wakil Presiden. Saya katakan kepada  anakku, jangan kamu membohongi rakyat. Rakyat sudah susah, jadi  jangan kamu tambah beban  rakyat dengan kebohongan. Tidak ada sejarah  yang namanya pemerintahan bersih, makanya rajin belajar sejarah.”

Saya tertunduk, tidak mampu lagi mengucapkan apa-apa. Hanya saya bergumam sendiri, betapa uniknya ini Bung Adam Malik, konon pendidikan formalnya hanya kelas II SMP, tapi luar biasa jernih  pemikirannya, jujur sekali, apa adanya, tidak menghamburkan  kata-kata surga telinga. Benar juga pendapatnya soal pemerintahan, tidak ada pemerintahan bersih. Memangnya rinso.  Yang ada, mungkin pemerintah yang melakukan fungsinya secara maksimal, atau bahasa apa ya yang tepat  dan singkat untuk menggambarkan  pemerintahan yang melakukan fungsinya secara maksimal.  Sulit sekali mencari  tokoh sekaliber beliau. Apa lagi saya yang cuma bisa kerja nulis-nulis, oh jauh ibarat bumi dan langit. ***

ADAKAH PEMERINTAHAN BERSIH


Mimpi itu bunga tidur. Begitu kata sebagian orang. Ada pula yang menganggap- mimpi itu memiliki makna, kadang dikaitkan dengan keberuntungan, musibah dan sebagainya.

Pernah seseorang menceritakan sebuah mimpi kepada saya. Ketika itu sudah dekat Pilpres. Ceritanya begini : itu pasangan calon kita masing-masing dengan angka punggung A,B,C dan D. Itu   saya lihat  calon A duduk di kursi mewah, wajahnya memancarkan cahaya, sementara itu calon B, C, dan D, hanya nampak samar-samar,masing-masing mereka duduk di kursi, tapi tidak begitu nampak wajahnya. 

Setelah dilaksanakan Pilpres, itu pasangan calon dengan angka punggung A yang diliputi cahaya, dia   lolos. Mungkin kebetulan, mungkin juga teman saya tidak bermimpi seperti itu, kemudian dia ngarang-ngarang saja, entahlah.  Tapi, ada yang bilang, kalau seseorang menceritakan mimpi yang tidak pernah dia alami, maka itu kebohongan besar, maksudnya  berdosa besar.

Nah, saya ini kan suka nulis-nulis, suka bermain di tataran imajinasi, ya kalau bahasa kasarnya “ berbohong”, tidak benar bermimpi, tapi mengaku bermimpi, hanya karena ingin menuangkan pikiran imajinatif dalam sebuah tulisan. Sudah lah, kalau berdosa biar saya tanggung sendiri, apa boleh buat. Saya mau menceritakan “mimpi” saya ( he he tidak benar bermimpi alias  mimpi karangan.)

Saya bertemu dengan seorang tokoh nasional, beliau ini sudah almarhum,  saya amati, eh, ini Bung Adam Malik, wartawan tiga zaman, dijuluki si kancil, pernah menjabat Wakil Presiden, Ketua MPR/DPR dan pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Keamanan PBB.

“Ada apa nak, ada yang perlu saya bantu ? “ Demikian suara Adam Malik penuh wibawa.
Saya terkejut kemudian dengan menjura  penuh hormat, saya berkata : maaf beribu maaf, apa saya berhadapan dengan  bapak Adam Malik .

“Benar sekali. Apa khabar dari duniamu. “

‘Alhamdulillah bapak Adam Malik, baik-baik saja, pembangunan gedung maju pesat pak, walau beras saja kami impor, banyak sekali legislator pintar-pintar, tapi kadang hanya lebih banyak menimbulkan masalah ketimbang memberikan solusi. Itu Bung Karno cuma meminta sepuluh pemuda maka dia akan menggoncangkan dunia, pak, tapi negeriku pak, ratusan sampai ribuan legislator, tidak ada juga pak, jangankan hendak menggoncangkan dunia, justru  kerjanya hanya membesarkan partainya, kelompoknya dan utamanya dirinya sendiri. Pendidikan maju, sekolah ada sampai di desa dan kecamatan, walau ada yang  sekolah hanya ada dua orang guru,  universitas sampai ke daerah kabupaten walau banyak konfliknya. Bapak ini kan masih menjabat menteri ketika Orde Lama, nah ketika muncul Orde Baru, maka Orde Lama dianggap seperti “anjing kurapan”, tidak ada lagi unsur positifnya. Kemudian muncul Orde Reformasi, semua berteriak Orde Baru busuk, lamban, pro modal asing, pemerintahan diktator, melanggar HAM. Diteriakkan pula Suharto digantung, Golkar dibubarkan, ABRI harus digusur dari Parlemen. Nyatanya pak, mereka lebih busuk dari yang mereka kritik itu, pak Adam Malik yang saya sangat hormati.

‘Wah.. wah.. hebat, cara ngomongmu itu, luar biasa sekali, gaya profokatif, tidak gampang. Atau gayamu bicaramu jangan-jangan gambaran atau mewakili  gaya bicara generasimu,gaya bicara legislator yang kamu kritik itu. “ Kata Adam Malik dengan suara tajam,  suaranya agak nyaring.

Saya tertunduk, tak mampu memandang wajah Adam Malik yang sangat berwibawa. Kemudian dengan suara pelan berkata : “ Maafkan saya bapak Adam Malik idolaku, saya ini hanya frustasi saja pak, mungkin yang benar bahwa saya mewakili generasi yang frustasi pak, soalnya banyak pemimpin kami bicara tidak sesuai dengan perbuatan, “ gentinya” minta ampun pak, kalau gaya bicaranya sih, ya batu pun bergoyang. Penegak hukumnya pak, sebahagian besar menjual perkara jadi barang dagangan, politisinya menjual kebijakan kepada pemilik modal pak, katanya hendak membela rakyat, ternyata hanya membela kepentingan segelintir orang. LSM-nya, kurang lebih sama pak, lebih banyak jadi broker, mereka seolah-olah tidak bisa eksis kalau tidak jadi “pesuruh” elite kekuasaan, tidak mandiri pak. Mereka sama pak hanya mengejar kekuasaan juga, tapi  dengan jargon kerakyatan pak, sama dengan politisi itu pak. Wartawannya ? Kurang lebih pak, tidak ada harapan. Rakyat kan mengharapkan pemerintahan bersih, pak. “

‘Luar biasa, dari kata-katamu, pertama saya hendak garis bawahi, ada semangat pesimisme. Mustinya, generasi unggul tidak pesimis. Kedua, itu ucapanmu terakhir soal pemerintahan bersih. Sudah lama saya katakan bukan hanya kepada publik, tapi pertama saya katakan kepada anakku sendiri, darah dagingku sendiri. Ketika itu dia mahasiswa, ya sedikit banyak dia bersimpati dengan gerakan mahasiswa tahun 70-an yang mengusung isu pemerintahan bersih, sementara saya Wakil Presiden. Saya katakan dengan anakku, jangan kamu membohongi rakyat. Rakyat sudah susah, tapi jangan kamu tambah beban  rakyat dengan kebohongan. Tidak ada yang namanya pemerintahan bersih, makanya rajin belajar sejarah.”

Saya tertunduk, tidak mampu lagi mengucapkan apa-apa. Hanya saya bergumam sendiri, betapa uniknya ini Bung Adam Malik, konon pendidikan formalnya hanya kelas II SMP, tapi luar biasa jernih  pemikirannya, jujur sekali, apa adanya, tidak menghamburkan  kata-kata surga telinga. Sulit sekali mencari  tokoh sekaliber beliau. Apa lagi saya yang cuma bisa kerja nulis-nulis, oh jauh ibarat bumi dan langit. ***

oleh Usman Hasan pada 21 Juni 2012 pukul 22:35

PIDATO HARI REFORMASI


oleh Usman Hasan pada 26 Mei 2012 pukul 6:50
Negeri Kelabu pernah gemilang dengan gerakan  reformasi. Setiap tahun hari kegemilangan nasional itu dirayakan dengan berbagai kegiatan. Ada demo, ada yang mengelar mimbar bebas, ada yang diskusi dan ada pula sekedar mengeluarkan pernyataan sikap.

Nah, dalam sebuah kegiatan mimbar bebas dalam rangka memperingati Hari Reformasi di negeri Kelabu ,  seorang mantan aktifis mahasisa pelaku reformasi yang kebetulan masih jauh dari kemapanan hidup, berbeda jauh dengan teman-temannya yang sudah licin kelimis, necis parlente,  berpidato berapi-api dengan sarat emosi :

Apa itu reformasi? Apa itu “revolusi” yang keluar dari mulut berbusa-busa kalian ?. Hidup rakyat !!! Hidup Mahasiswa !!!!. Apanya yang hidup dan siapa yang hidup. Bukan rakyat yang hidup karena perjuangan kita, tapi kaum oportunis berbau busuk. Rakyat yang kita perjuangkan itu, sekarang mereka dijadikan barang dagangan para kandidat  politisi busuk. Rakyat yang kalian perjuangkan itu sekarang sudah menjurus menjadi manusia miskin kapiran. Mereka antri sembako sampai terinjak-injak, antri minyak tanah berjam-jam dimana kondisi seperti itu tidak pernah terjadi di-era orde baru yang kalian sebuat orde bengis pelanggar HAM.

Buruh yang kalian perjuangkan sekarang telah menjadi budak di negerinya sendiri. Dijadikan sekedar barang  dagangan. Apa itu semua perjuangan reformasi kalian ? Orde Baru yang kita katakan bengis itu tidak pernah menjadikan buruh sebagai barang dagangan seperti itu.

Apa lagi? Masih adakah yang dapat kalian banggakan ?  Itu kalian lihat sendiri kan bagaimana tokoh-tokoh yang katanya menjadi harapan negeri satu persatu masuk penjara dan mereka bukan tokoh tua angkatan 28  dan tokoh tua angkatan 45 dan tokoh  angkatan 66, justru dari kaum muda yang kalian banggakan itu, katanya pejuang reformasi, tokoh reformasi.

Dulu kita suruh mundur ABRI dari legislatif. Kalian bilang bahwa  kehadiran ABRI di legislatif sebagai penghalang demokratisasi, sumber permasalahan. Setelah ABRI kita usir dari Legislatif, ternyata kan yang ada sekarang ini  tidak menjadi lebih baik, bahkan menjadi lebih kacau balau, lebih brengsek, lebih rakus, lebih pembohong . Para pelanggar HAM  yang kalian hujat itu, sekarang didekati pula, dijadikan sekutu, rela menjadi “pesuruh” mereka.

Dulu berteriak anti korupsi, pejuang reformasi, pembela rakyat kecil. Sekarang hanya sibuk  kesana kemari bagaikan pelacur jalanan masuk keluar instansi loby proyek untuk mengisi “kantong kiri”, menuruti keserakahan harta dunia.  Setelah berhasil meraup harta rakyat,  merekai habiskan untuk foya-foya diatas penderitaan rakyat yang selalu  kita sebut sebagai “ibu”. Sekarang kan kita sudah mengkhianati rakyat yang selalu kita sebut “ibu” dan pengkhianatan apa lagi sebesar pengkhianatan kepada seorang “ibu”.   

Mungkin saja  ada yang dapat anda banggakan yaitu  kebebasan sebagai hasil reformasi. Oke itu benar. Karena negeri ini tidak pernah sebebas sekarang, orang boleh berkata apa saja, boleh mendirikan organisasi, mendirikan LSM, boleh berkumpul, boleh berserikat. Tapi dengan kebebasan justru hanya dijadikan sebagai alat posisi tawar demi kepentingan pribadi, bukan untuk membela rakyat. Kalian lihat itu partai politik, kapan dia mendidik rakyat supaya sadar politik, justru ytang dilakukan adalah mengimingi rakyat dengan selembar uang ratusan ribu, bantuan sarung gajah duduk, bantuan sekilo gula pasir, bantuan kerudung agar memilih kandidatnya, memilih partainya. Apa itu yang namanya pendidikan politik rakyat. Buktinya, rakyat tidak bisa makan kebebasan, makan demokrasi, makan partisipasi. Rakyat perlu makan nasi, perlu sandang, perlu perumahan, perlu pelayanan kesehatan, perlu pendidikan, perlu pelayanan dan perlakuan hukum yanga adil. ***